Museum Radyapustaka

Pengelolaan Museum Radyapustaka

Halaman Depan Museum RadyapustakaSelama lebih seabad berdiri, Museum Radyapustaka telah mengalami pasang surut dan pahit getir sebagai sebuah lembaga pengembangan kebudayaan dan sekaligus penyimpan pustaka dan benda peninggalan sejarah. Selama itu pula museum ini telah memberikan kontribusi besar dan mengalami pergantian pengelolaan. Sejak didirikan hingga sekarang, setidaknya Museum Radyapustaka telah dipimpin oleh tujuh masa kepengurusan.

Pimpinan pertama Radyapustaka selaku ketua Paheman adalah RTH Djojodiningrat. Sebagai pimpinan pertama, RTH Djojodiningrat banyak berjasa sebagai perintis. Untuk menghormati jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai nama salah satu bangunan (dulu menjadi ruang baca) di Museum Radyapustaka yaitu gedung Walidyasana, yang diambil dari nama kecil RTH Djojodiningrat, yakni Walidi. RTH Djojodiningrat memimpin Radyapustaka hingga tahun 1905.

Kepemimpinan Radyapustaka berikutnya dipegang oleh RT Djojonagoro, sejak tahun 1905 hingga 1914. Pasa masa inilah Radyapustaka pindah dari Kepatihan ke lokasi baru di Loji Kadipolo Sriwedari pada 1 Januari 1913.

Tokoh 1Tokoh 2Berikutnya RT Wurjoningrat memegang kendali Radyapustaka (1914 - 1926). Pada masa kepemimpinannya, sebagai lembaga ilmu pengetahuan Radyapustaka menggelar musyawarah mengenai ejaan aksara Jawa. Ejaan ini dipergunakan hingga kini untuk pedoman penulisan huruf Jawa, dikenal sebagai Ejaan Sriwedari yang diresmikan penggunaannya pada 9 Desember 1922. Pada masa kepemimpinannya juga Radyapustaka membuka berbagai kursus seni budaya.

Setelah itu kepemimpinan Radyapustaka dipegang oleh GPH Hadiwidjojo. Putra Sri Susuhunan Paku Buwono X ini tercatat sebagai pimpinan Radyapustaka paling lama yaitu dari tahun 1930 hingga 1975. Pada masa inilah Museum Radyapustaka mampu mengambil peran penting dengan semakin mengembangkan kursus-kursus seni budaya, ceramah kebudayaan dan menggelar berbagai kegiatan untuk semakin mengakrabkan dan mengasah kemampuan masyarakat di bidang seni dan budaya.

Selain menjadi pengelola museu, GPH Hadiwidjojo juga berperan sebagai kurator. Banyak koleksi Museum Radyapustaka, terutama benda-benda kuno, merupakan hasil kurasinya.

Pimpinan selanjutnya adalah KRT Hardjonagoro (1975 - 1990). Masa kepemimpinannya ditandai dengan berbagai capaian penting, diantaranya renovasi bangunan museum dan penambahan ruang belakang museum, mengikutsertakan Radyapustaka dalam pameran museum tingkat internasional, pembuatan mikrofilm untuk sejumlah naskah-naskah kuno (bekerjasama dengan Nancy K Florida), dan berbagai kegiatan lainnya untuk peringatan seabad Museum Radyapustaka.

Selanjutnya KRT Darmodipuro menjadi Ketua Pelaksana Harian Museum Radyapustaka sejak tahun 1990 menggantikan KRT Hardjonagoro yang mengundurkan diri. Di masa kepemimpinannya, Museum Radyapustaka membuka jasa konsultasi pawukon (astrologi Jawa) dan pemilihan hari yang tepat untuk menggelar acara atau perhelatan.

Sejak tahun 2008, Pemerintah Kota Surakarta membentuk komite untuk memimpin dan mengelola Museum Radyapustaka. Komite tersebut diberi nama Komite Museum Radyapustaka.

Anda disini: Home Tentang Museum Museum Radyapustaka Pengelolaan Museum
Museum Radyapustaka

Materi yang diposting di website ini juga dapat ditemukan pada buku kecil resmi terbitan Museum Radyapustaka, dengan beberapa pengecualian materi.

 Daftar e-Newsletter